Lelaki Buas

Friday, 23 November 2012 | comments


Aku mengerti. Aku salah. . .
Kegadisannya telah aku renggut. Alasan utama aku menidurinya pun hanya karena dia cantik, manis, tatapan matanya menggodaku. Kalau soal cinta urusan belakang. Wah, andai saja semua lelaki seprti aku, maka selalu ada ratap tagis dan kertak gigi bagi kaum hawa. Kaumnya ibuku.
Nah, gadis bernama Narty itu kembali. Kamar kost di sudut Jalan Mega Mendung itu ia menagis sejadi-jadinya. Ia mengatakan telah telat lima bulan. Keterangan dokter yang ditujukannya kepadaku memvonis “positif hamil”. Ia meminta aku bertanggung jawab atas perbuatan itu. Aku semakin keras. Tetap pada pendirian. Hanya satu kalimat, “Kita tidak usah menikah, kandungan itu digugurkan saja” Narty histeris. Tetangga yang menonton tidak lagi digubrisnya.
Aku terus membujuknya. “Narty masih semester dua, dan aku skripsi belum selesai. Ingat itu Narty! Jangan buat kedua orang tua kita gila dengan ‘kecelakaan ini’” Yah, ini terjadi hanya sebuah kecelakaan. Lantaran sekali lagi aku melakukannya karena cantik, manis, tatapan matanya terlalu menggoda. “Salah sendiri siapa suruh kau cantik.” Soal cinta: TIDAK.
Narty semakin keras berteriak. Ia marah. Ia semakin membabi-buta. Tidak lagi isi kamarku yang diberantakkan. Pisau dapur telah berada di genggamannya. Ia ingin menghunjam dirinya dengan aku. Aku sontak mengambil langkah seribu dan lari.

******

Aku terbagun dari tidurku. Peluh membasahi kaos coklat tua yang aku kenakan. Aku bermimpi. Mimpi yang mendekati nyata. Bayangan Narty kembali menari-nari di pelupuk mataku. Wajah manisnya, dadanya yang membuncah dan desahannya waktu aku menidurinya masih terasa. Sepertinya aku lakukan itu sehari yang lalu. Padahal lima bulan telah terlewatkan.
Ia sungguh gadis terindah ynag pernah aku kenal. Gadis dengan sejuta pesona yang meluluh lantahkan setiap anganku. Mimpi malam yang biasa aku lalui dengan beragam crita, berubah dengan cerita indah bersama dirinya. Bahkan seringkali aku bermimpi sampai air merembes. Anehnya, semua cerita hanya dengan dirinya. Kehadirannya telah membuat cerita yang diperankan satu tokoh.
Adalah untaian keindahan yang menggantung tegak pada hidung bangirnya. Rona merah merekah, layaknya delima yang mengukir indah di bibir. Senyumnya menjadikan anugerah, rahmat, karunia yang mendekorasikan semesta. Sinar kemilau yang tersorot lewat tatapan matanya. Melihat saja aku merasa bahagia, apalagi memilikinya.
Ia adalah rupa kesempurnaan. Sebuah kisah klasik tentang seorang puteri dari khayangan. Bidadari yang turun bermandi telaga di bumi. Yang kemudian lupa jalan pulang. Tentu, karena kehilangan sayap yang entah siapa yag dengan nakal memindah tempatkan kepada mata yang melihat. Mungkin juga angin yang nakal meniup terbang. Meliukan suka suarga, menjadi duka semesta.
Kemudian cerita itu menjadi nyata. Ada bersamaku sekarag. Mengganggu setiap mimpi maupun nyataku. Dia adalah Narty. Gadis termanis yang kutemui dan yang telah menjadi kekasihku. Rupa yang persis menyamai bidadari. Wanita cantik, yang entah kenapa menerima cintaku yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh. Waktu itu hanya karena persaingan untuk menunjukan siapa yang bisa mendapatkannya. Temanku yang memulai. Aku yang mengakhiri.
Cerita tentang aku dan Narty adalah kisah seribu satu suka yang tak pernah terlintas duka. Dan aku kembali teringat peristiwa pagi tadi. Dia datang ke kosku.
Gadis bernama Narty itu adalah pacarku. Dia dating di kosku. Kembali. Kamar kos di sudut Jalan Mega mendung itu dihiasi oleh suara yang menyayat hati. Ia menagis sejadi-jadinya. Ia mengakui telah lima bulan tidak dating bulan. Keterangan dokter yang ditunjukkannya kepadaku memvonis “positif hamil”. Ia meminta aku bertanggung-jawab atas perbuatan itu. Aku berontak, bahkan pendirianku semaki keras. Tetap tak mau menerima hasil dari hubungan suka sama suka itu. Aku berpendapat, “Kita tidak usah menikah, kandungan itu digugurkan saja” sontak saja, Narty histeris. Menagis semakin keras. Bahkan para tetangga mulai bertanya-tanya tak lagi digubrisnya.
Aku terus membujuknya. “Narty, engkau harus sadar betul. Engkau masih semester dua, dan aku skripsi belu selesai. Ingat itu Narty! Jangan buat orang tua kita gila dengan ‘kecelakaan’ ini”. Yah, itu terjadi hanya sebuah kecelakaan. Lantaran sekali lagi aku melakukannya Karena cantik, manis, tatapan matanya yang terlalu menggoda. “Siapa suruh kau cantik”. Soal cinta : TIDAK. Aku membuka kartu yang selayaknya tak boleh siapapun tahu termasuk Tuhan.
Tiba-tiba, pintu kamarku diketok. Aku terperanjat dari ingatanku  pada peristiwa dengan Narty. “Sial, siapa yang mau bertamu tengah malam begini. Tidak punya perasaankah dia? Ganggu tidur orang saja” gumamku tidak karuan. Pintu kembali degedor. Kali ini semakin keras. Aku hendak mengumpat, tetapi tertahan di tenggorokan ketika mendengar seseorang bersuara. Suara lelaki. Ku buang begitu saja selimut yang masih menutupi tubuhu.
Pintu terbuka. Seorang lelaki paruh baya menatapku tak bersahabat. Aku cuek saja sambil mengusap-usap kedua mataku. Lelaki itu mendorongku masuk dengan kasarnya. Aku terduduk di lantai. Ia mengikuti. Ia marah-marak padaku karena Narty. Katanya ia Om-nya Narty, juga calon bapak mantunya. Narty telah dijodohkan dengan anaknya karena tuntutan budaya. Budaya memuakkan tanpa melihat hakikat kebebasan cinta yang sesungguhnya.
Lelaki itu mulai menginterogasiku. Ia mengawalinya dengan cerita Narty kepadanya. Katanya gadis bernama Narty itu kembali, kamar kos di sudut Jalan Mega Mendung itu ia menagis sejadi-jadinya. Ia mengatakan telah telat lima bulan tidak datag bulan. Keterangan dokter yang ditunjukannya kepadamu memvonis “positif hamil”. Ia meminta engkau bertanggung jawab atas perbuatan itu. Tetapi engkau sungguh keras kepala, bahkan semakin keras. Hanya satu kalimat, “Kita tidak usah menikah, kandungan itu digugrkan saja” sontak saja Narty berteriak keras. Tetangga yang menonton tidak lagi digubrisnya. Ia telah kepalang basah. Malau saja sekalian yang penting kalian bisa membereskan masalah ini.
Engkau malah bertindak aneh. Engkau terus membujuknya. “Narty masih semester dua, dan aku skripsi belum selesai. Ingat itu Narty! Jangan buat orang tua kita gila dengan ‘kecelakaan ini’” katamu terlalu pengecut. Yah ini terjadi hanya sebuah kecelakaan. Lantaran sekali lagi aku melakukannya karena cantik, manis, dan tatapan matanya terlalu menggoda. “Salah sendiri siapa suruh engkau cantik”. Soal cinta: TIDAK.
Lagi-lagi engkau mulai mencari sisi lemah Narty untuk kau jadikan kesalahan yang memvonis jatuhkan dia sebagai terdakwa yang bersalah, yang pantas menerima semua ini. Engkau mulai cuci tangan.
Aku tak bisa berkutik lagi. Semua keluarga telah mengetahui. Aku mencari cara. Melunakan hati lelaki yang sedang geram menghadapku ini. Aku meminta maaf. “Om, aku akan bertanggung-jawab”. Lelaki itu menatapku lekat-lekat. Tanpa ku sangka ia menamparku de leher dengan sesuatu. Aku pusing. Menutup mata untuk beberapa menit. Setelah kembali mebuka mata. Aku menatapnya bisu. Tak ada sakit yang ku rasakan sekarang. Tak ada kata-kata yang menguak dari mulutku. Lelaki itu berlari pulang. Aku tak jatuh. Kokoh berdiri. Sedang lelaki itu, telah menghilang dalam senyap sang malam. Ia menabrakku seperti menabrak angin.
Aku terheran-heran melihat tubuhku tergeletak di lantai. Aku mendekat ke tubuhku. Sungguh mengerikan. Leherku terpotong hamper putus. Darah segar mengalir tiada henti. Menganak sungai. Aku bisu ingin memegang tubuhku. Aku tak bisa menyentuh apa-apa. Sementara diluar sana, ayam berkokok dengan girang. Menyambut pagi yang sebentar lagi melawat bumi.
******


Harian pagi Timor Express. Edisi Minggu, 27 Mei 2012
Oleh: Djho Ismail & Roman Rendusara

Share this article :
 
Copyright © 2013. Kitongpung