Aku
mengerti. Aku salah. . .
Kegadisannya
telah aku renggut. Alasan utama aku menidurinya pun hanya karena dia cantik,
manis, tatapan matanya menggodaku. Kalau soal cinta urusan belakang. Wah…, andai saja semua lelaki seprti aku, maka
selalu ada ratap tagis dan kertak gigi bagi kaum hawa. Kaumnya ibuku.
Nah,
gadis bernama Narty itu kembali. Kamar kost di sudut Jalan Mega Mendung itu ia
menagis sejadi-jadinya. Ia mengatakan telah telat lima bulan. Keterangan dokter
yang ditujukannya kepadaku memvonis “positif hamil”. Ia meminta aku bertanggung
jawab atas perbuatan itu. Aku semakin keras. Tetap pada pendirian. Hanya satu
kalimat, “Kita tidak usah menikah, kandungan itu digugurkan saja” Narty
histeris. Tetangga yang menonton tidak lagi digubrisnya.
Aku
terus membujuknya. “Narty masih semester dua, dan aku skripsi belum selesai.
Ingat itu Narty! Jangan buat kedua orang tua kita gila dengan ‘kecelakaan ini’”
Yah, ini terjadi hanya sebuah kecelakaan. Lantaran sekali lagi aku melakukannya
karena cantik, manis, tatapan matanya terlalu menggoda. “Salah sendiri siapa
suruh kau cantik.” Soal cinta: TIDAK.
Narty
semakin keras berteriak. Ia marah. Ia semakin membabi-buta. Tidak lagi isi
kamarku yang diberantakkan. Pisau dapur telah berada di genggamannya. Ia ingin
menghunjam dirinya dengan aku. Aku sontak mengambil langkah seribu dan lari.
******
Aku
terbagun dari tidurku. Peluh membasahi kaos coklat tua yang aku kenakan. Aku
bermimpi. Mimpi yang mendekati nyata. Bayangan Narty kembali menari-nari di
pelupuk mataku. Wajah manisnya, dadanya yang membuncah dan desahannya waktu aku
menidurinya masih terasa. Sepertinya aku lakukan itu sehari yang lalu. Padahal
lima bulan telah terlewatkan.
Ia
sungguh gadis terindah ynag pernah aku kenal. Gadis dengan sejuta pesona yang
meluluh lantahkan setiap anganku. Mimpi malam yang biasa aku lalui dengan
beragam crita, berubah dengan cerita indah bersama dirinya. Bahkan seringkali
aku bermimpi sampai air merembes. Anehnya, semua cerita hanya dengan dirinya.
Kehadirannya telah membuat cerita yang diperankan satu tokoh.
Adalah
untaian keindahan yang menggantung tegak pada hidung bangirnya. Rona merah
merekah, layaknya delima yang mengukir indah di bibir. Senyumnya menjadikan
anugerah, rahmat, karunia yang mendekorasikan semesta. Sinar kemilau yang
tersorot lewat tatapan matanya. Melihat saja aku merasa bahagia, apalagi
memilikinya.
Ia
adalah rupa kesempurnaan. Sebuah kisah klasik tentang seorang puteri dari
khayangan. Bidadari yang turun bermandi telaga di bumi. Yang kemudian lupa
jalan pulang. Tentu, karena kehilangan sayap yang entah siapa yag dengan nakal
memindah tempatkan kepada mata yang melihat. Mungkin juga angin yang nakal
meniup terbang. Meliukan suka suarga, menjadi duka semesta.
Kemudian
cerita itu menjadi nyata. Ada bersamaku sekarag. Mengganggu setiap mimpi maupun
nyataku. Dia adalah Narty. Gadis termanis yang kutemui dan yang telah menjadi
kekasihku. Rupa yang persis menyamai bidadari. Wanita cantik, yang entah kenapa
menerima cintaku yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh. Waktu itu hanya karena
persaingan untuk menunjukan siapa yang bisa mendapatkannya. Temanku yang
memulai. Aku yang mengakhiri.
Cerita
tentang aku dan Narty adalah kisah seribu satu suka yang tak pernah terlintas
duka. Dan aku kembali teringat peristiwa pagi tadi. Dia datang ke kosku.
Gadis
bernama Narty itu adalah pacarku. Dia dating di kosku. Kembali. Kamar kos di
sudut Jalan Mega mendung itu dihiasi oleh suara yang menyayat hati. Ia menagis
sejadi-jadinya. Ia mengakui telah lima bulan tidak dating bulan. Keterangan
dokter yang ditunjukkannya kepadaku memvonis “positif hamil”. Ia meminta aku
bertanggung-jawab atas perbuatan itu. Aku berontak, bahkan pendirianku semaki
keras. Tetap tak mau menerima hasil dari hubungan suka sama suka itu. Aku
berpendapat, “Kita tidak usah menikah, kandungan itu digugurkan saja” sontak
saja, Narty histeris. Menagis semakin keras. Bahkan para tetangga mulai
bertanya-tanya tak lagi digubrisnya.
Aku
terus membujuknya. “Narty, engkau harus sadar betul. Engkau masih semester dua,
dan aku skripsi belu selesai. Ingat itu Narty! Jangan buat orang tua kita gila
dengan ‘kecelakaan’ ini”. Yah, itu terjadi hanya sebuah kecelakaan. Lantaran
sekali lagi aku melakukannya Karena cantik, manis, tatapan matanya yang terlalu
menggoda. “Siapa suruh kau cantik”. Soal cinta : TIDAK. Aku membuka kartu yang
selayaknya tak boleh siapapun tahu termasuk Tuhan.
Tiba-tiba,
pintu kamarku diketok. Aku terperanjat dari ingatanku pada peristiwa dengan Narty. “Sial, siapa
yang mau bertamu tengah malam begini. Tidak punya perasaankah dia? Ganggu tidur
orang saja” gumamku tidak karuan. Pintu kembali degedor. Kali ini semakin keras.
Aku hendak mengumpat, tetapi tertahan di tenggorokan ketika mendengar seseorang
bersuara. Suara lelaki. Ku buang begitu saja selimut yang masih menutupi
tubuhu.
Pintu
terbuka. Seorang lelaki paruh baya menatapku tak bersahabat. Aku cuek saja
sambil mengusap-usap kedua mataku. Lelaki itu mendorongku masuk dengan
kasarnya. Aku terduduk di lantai. Ia mengikuti. Ia marah-marak padaku karena
Narty. Katanya ia Om-nya Narty, juga calon bapak mantunya. Narty telah
dijodohkan dengan anaknya karena tuntutan budaya. Budaya memuakkan tanpa
melihat hakikat kebebasan cinta yang sesungguhnya.
Lelaki
itu mulai menginterogasiku. Ia mengawalinya dengan cerita Narty kepadanya.
Katanya gadis bernama Narty itu kembali, kamar kos di sudut Jalan Mega Mendung
itu ia menagis sejadi-jadinya. Ia mengatakan telah telat lima bulan tidak datag
bulan. Keterangan dokter yang ditunjukannya kepadamu memvonis “positif hamil”.
Ia meminta engkau bertanggung jawab atas perbuatan itu. Tetapi engkau sungguh
keras kepala, bahkan semakin keras. Hanya satu kalimat, “Kita tidak usah
menikah, kandungan itu digugrkan saja” sontak saja Narty berteriak keras.
Tetangga yang menonton tidak lagi digubrisnya. Ia telah kepalang basah. Malau
saja sekalian yang penting kalian bisa membereskan masalah ini.
Engkau
malah bertindak aneh. Engkau terus membujuknya. “Narty masih semester dua, dan
aku skripsi belum selesai. Ingat itu Narty! Jangan buat orang tua kita gila
dengan ‘kecelakaan ini’” katamu terlalu pengecut. Yah ini terjadi hanya sebuah
kecelakaan. Lantaran sekali lagi aku melakukannya karena cantik, manis, dan
tatapan matanya terlalu menggoda. “Salah sendiri siapa suruh engkau cantik”.
Soal cinta: TIDAK.
Lagi-lagi
engkau mulai mencari sisi lemah Narty untuk kau jadikan kesalahan yang memvonis
jatuhkan dia sebagai terdakwa yang bersalah, yang pantas menerima semua ini. Engkau
mulai cuci tangan.
Aku
tak bisa berkutik lagi. Semua keluarga telah mengetahui. Aku mencari cara.
Melunakan hati lelaki yang sedang geram menghadapku ini. Aku meminta maaf. “Om,
aku akan bertanggung-jawab”. Lelaki itu menatapku lekat-lekat. Tanpa ku sangka
ia menamparku de leher dengan sesuatu. Aku pusing. Menutup mata untuk beberapa
menit. Setelah kembali mebuka mata. Aku menatapnya bisu. Tak ada sakit yang ku
rasakan sekarang. Tak ada kata-kata yang menguak dari mulutku. Lelaki itu
berlari pulang. Aku tak jatuh. Kokoh berdiri. Sedang lelaki itu, telah
menghilang dalam senyap sang malam. Ia menabrakku seperti menabrak angin.
Aku
terheran-heran melihat tubuhku tergeletak di lantai. Aku mendekat ke tubuhku.
Sungguh mengerikan. Leherku terpotong hamper putus. Darah segar mengalir tiada
henti. Menganak sungai. Aku bisu ingin memegang tubuhku. Aku tak bisa menyentuh
apa-apa. Sementara diluar sana, ayam berkokok dengan girang. Menyambut pagi
yang sebentar lagi melawat bumi.
******
Harian pagi
Timor Express. Edisi Minggu, 27 Mei 2012
Oleh: Djho
Ismail & Roman Rendusara